Rupiah Diproyeksi Bergerak Terbatas, Ini Estimasi Nilai Tukar Sepekan Ke Depan

Senin, 09 Februari 2026 | 09:21:14 WIB
Rupiah Diproyeksi Bergerak Terbatas, Ini Estimasi Nilai Tukar Sepekan Ke Depan

JAKARTA - Pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan diperkirakan masih menghadapi tantangan eksternal. 

Tekanan global dinilai belum sepenuhnya mereda. Kondisi tersebut membuat pasar tetap berhati-hati.

Estimasi Nilai Tukar Rupiah Sepekan ke Depan menjadi perhatian pelaku pasar. Rupiah diperkirakan bergerak di tengah dominasi dolar Amerika Serikat. Penguatan dolar masih membayangi pergerakan mata uang regional.

Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai situasi global masih sarat ketidakpastian. Sentimen tersebut berasal dari kebijakan bank sentral utama dan dinamika geopolitik. Hal ini membuat ruang penguatan rupiah terbatas.

Tekanan Dolar Amerika Serikat Masih Dominan

Menurut Ibrahim, pergerakan dolar AS masih berada dalam fase kuat. Indeks dolar diperkirakan bergerak di kisaran resistance 96,7 hingga 98,6. Rentang ini berpotensi bertahan sepanjang sepekan ke depan.

“Tekanan dolar tersebut berpotensi mendorong pelemahan rupiah pada pekan depan, dengan kisaran support di Rp16.750 per dolar AS dan resistance di Rp17.200 per dolar AS,” ujarnya. Pernyataan tersebut mencerminkan risiko lanjutan bagi rupiah. Pelaku pasar diminta mencermati pergerakan global.

Tekanan dolar membuat mata uang negara berkembang ikut terimbas. Rupiah tidak bergerak sendiri dalam tekanan tersebut. Mata uang Asia lainnya juga mengalami pelemahan.

Pergerakan Rupiah pada Perdagangan Terakhir

Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS. Rupiah berada di level Rp16.876 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi seiring sentimen global.

Rupiah melemah bersama mata uang Asia lainnya. Tekanan datang dari penguatan indeks dolar. Kondisi ini menunjukkan sentimen risiko masih tinggi.

Indeks dolar AS tercatat menguat ke level 97,85. Penguatan ini memberi tekanan tambahan bagi rupiah. Pasar masih mencermati arah dolar selanjutnya.

Sentimen Global dan Kebijakan Bank Sentral

Ibrahim memerinci volatilitas dipicu oleh tertundanya rilis data tenaga kerja Amerika Serikat. Data tersebut dijadwalkan keluar pada 11 Februari 2026. Informasi ini dinilai krusial bagi pasar.

Data tenaga kerja menjadi acuan arah kebijakan moneter The Federal Reserve. Pasar menunggu kepastian apakah suku bunga akan diturunkan atau ditahan. Ketidakpastian ini menahan minat risiko.

Di sisi lain, bank sentral utama Eropa juga bersikap hati-hati. Bank of England dan Bank Sentral Eropa memilih menahan suku bunga. Keputusan tersebut mempertimbangkan kondisi ekonomi global.

Faktor Geopolitik dan Sentimen Domestik

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah sedikit mereda. Hal ini terjadi setelah pertemuan delegasi Amerika Serikat dan Iran. Isu yang dibahas berkaitan dengan reaktor nuklir.

Di Eropa, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendorong perdamaian Rusia dan Ukraina. Perdamaian diharapkan tercapai pada periode Mei hingga Juni. Upaya tersebut memberi sentimen positif sementara.

“Namun, sentimen pasar kembali terganggu oleh tudingan Amerika Serikat terhadap China yang disebut melakukan uji coba nuklir secara diam-diam, meskipun tuduhan tersebut telah dibantah.” Pernyataan ini menambah ketidakpastian global. Pasar kembali bersikap defensif.

Dari dalam negeri, tekanan rupiah diperparah isu pembekuan indeks oleh MSCI. Penurunan peringkat Indonesia juga memicu arus keluar dana asing. Sentimen ini membebani pasar keuangan.

Ibrahim menilai kondisi tersebut terjadi meskipun ekonomi Indonesia tumbuh 5,11% pada 2025. “Pertumbuhan tersebut dinilai belum cukup kuat untuk menopang stabilitas pasar keuangan,” ungkap Ibrahim. Pasar menilai fundamental belum sepenuhnya solid.

Narasi fiskal juga menjadi sorotan pelaku pasar. Pernyataan IMF soal defisit fiskal memicu perdebatan. Pasar menilai komunikasi kebijakan belum solid.

“Sentimen ini membuat pelaku pasar semakin pesimistis, berpotensi mendorong tekanan lanjutan pada IHSG dan rupiah hingga mendekati level Rp17.200 per dolar AS,” jelasnya. Tekanan diperkirakan masih berlanjut. Pasar diminta tetap waspada.

Terkini